Mengapa sih Dr. Judy (video Plandemic) naik daun, videonya viral luar biasa? Jelas karena Covid. Kalau tidak ada Covid, ga bakal viral. Maka, fokus utama orang saat menonton Plandemic seharusnya adalah pernyataan dia soal Covid.
Tapi para “pemeriksa fakta”, bekerja sama dengan Big Tech, langsung melabeli video itu hoaks dengan cara menshare link media di Barat yang menjelek-jelekkan kredibilitas Dr. Judy. Kill the messenger. Padahal, untuk masalah Covid, bukankah di video ada dokter-dokter AS lain yang juga dikutip pendapatnya? Jawab: POKOKNYA hoaks.
Video Dr. Erickson, juga disebut hoaks oleh “pemeriksa fakta” yang rupanya lebih dokter daripada dokter. Padahal, klinik dokter ini sudah mengetes ribuan orang sehingga dia mendapatkan data dengan tangannya sendiri lalu mengambil kesimpulan berbasis data itu. Tapi, POKOKNYA hoaks!
Video Dr. Siti Fadilah Supari yang diwawancarai Deddy Corbuzier juga diserang oleh gerombolan netizen sok tau dengan argumen “dia kan pelaku korupsi”, bahkan pekoknya, ada yang berusaha menjatuhkan SFS dengan menyebutnya HTI. Padahal, bukankah Dr Siti “naik daun” lagi karena pandangannya soal Covid? Emang DC mau mewawancarai Dr. SFS kalau selama ini dia diam aja di penjara, ga nulis surat terbuka soal Covid yang viral itu?
Jadi, seharusnya yang dibahas pandangan Dr. SFS soal Covid, virus, vaksin, dimana Dr. SFS memang punya background keilmuan dan pengalaman di situ.
Ada juga netizen yang mengata-ngatai bahwa klaim Dr. Siti soal melawan WHO itu bohong. Padahal baca saja bukunya, di situ nama diplomat senior dan diplomat muda disebut, diceritakan dengan detil proses sidang-sidang di Jenewa, dimana Indonesia menuntut agar mekanisme pengiriman virus dilakukan transparan dan negara pengirim virus mendapatkan benefit.
Btw, salah satu materi perkuliahan yang saya ajarkan adalah health security, dan untuk bahan kuliah, antara lain saya pakai artikel jurnal dari Aldis 2008, yang mengkonfirmasi bahwa memang Indonesia pernah mengajukan tuntutan perubahan mekanisme WHO tsb.
Soal Suriah dan Israel juga begini. Kepada penulis yang membongkar kedok “jihad” Ikhwanul Muslimin, HTI, Al Qaida, ISIS, dll, di Suriah, ada saja yang menyerang dengan label-label yang berupaya mengalihkan fokus. Kalau penulisnya orang Barat, dan dia menyebut keterlibatan Israel dalam agenda penggulingan Assad, dia akan dicap “anti-Semit” atau “pendukung teori konspirasi”. Argumen tidak perlu, hantam saja dengan label.
Kalau yang nulis Muslim, gampang, kafir-kafirin aja, sebut 3 S (Syiah-Syiah-Syiah), yakin pasti banyak yang gagal fokus. Bahkan aktivis (mengaku) anti hoaks pun cuma bisa bawa argumen 3 S gini.
Dari kejadian-kejadian ini, orang yang mau mikir pasti bisa lihat polanya:
1. apa informasi yang sedang diperdebatkan
2. siapa yang berkepentingan agar informasi itu tidak meluas.
Kalau ujung-ujungnya kalian temukan pihak yang sama: ada Big Tech dan MSM yang terlibat (mereka “komandan” dalam pemberangusan info-info tsb; dan kroco-kroconya di Indonesia bergerak sejalan, baik gratisan maupun bayaran, baik lembaga resmi, maupun netizen yang sedang pansos), maka plis deh, jangan naif dan ikut-ikutan mengejek “teori konspirasi”! Label “teori konspirasi” itu juga upaya untuk membuat orang gagal fokus.
Di Indonesia, sudah ada dokter-dokter yang berani memberikan perspektif yang berbeda (dari narasi mainstream) soal Covid. Awalnya ada drh Indro Cahyo yang viral (FB: https://www.facebook.com/moh.i.cahyono ).
Eh, argumennya dibantah dengan ejekan “dokternya hewan, bukan dokternya manusia”.
Lalu, ada Dr. Agni Bonendasari, bisa cek di fbnya:
https://www.facebook.com/agni.sugiyatmo/videos/10213178412454578/ (soal pro-kontra anak sekolah/tidak sekolah).
Lalu bisa disimak Dr. Lalu Herman (Direktur RSUD Mataram) https://www.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/305629583794356/
Jangan gagal fokus ala-ala mereka yang demen (atau dibayar untuk) gagal fokus, fokuslah pada apa argumen mereka.
Berpikir tenang dan mau terus belajar akan menghilangkan rasa takut yang tidak rasional; rasa takut yang memang ingin ditanamkan oleh media tertentu (atas perintah pemodal tertentu).
—
Disclaimer: saya tetap patuh pada protokol kesehatan ya: keluar rumah pake masker, mengantongi hand sanitizer, rajin cuci tangan, jaga jarak, di rumah pakai desinfektan, minum vitamin, dll.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.