Ini sebenarnya judul buku ibu Dr. Siti Fadillah (beliau dokter dan Doktor). Saya pinjam untuk cerita sedikit soal perubahan dunia yang saya saksikan terkait Covid.

Video Plandemic, saking viralnya di seluruh dunia, sampai-sampai Big Tech mengerahkan seluruh daya upaya –dan dana besar tentunya– untuk menahan peredaran video ini. Sungguh kontraproduktif. Semakin kalian berupaya membungkam, semakin yakin orang bahwa video itu benar. Semakin militan mereka menyebar video itu melalui berbagai platform.

Padahal lebih baik dibiarkan saja dan didiskusikan, tapi bukan dengan cara membunuh karakter si narasumber. Membunuh karakter narasumber sama persis seperti kelakuan kaum Wahabi yang suka ngatain Syiah-Syiah-Syiah pada para penulis yang membongkar hoaks Suriah. Dan sebagian Wahabi memang ahli ber-taqiyah (pura-pura moderat dan pura-pura antihoaks). 😀

Lalu, Bill Gates yang demen banget berkoar-koar soal “lockdown 18 bulan sampai semua orang divaksin” juga mendapatkan perlawanan dari netizen. Medsos BG diserbu netizen dari berbagai negara, mereka marah dan mengata-ngatai. Dihapus-hapusin dong, tapi netizen tetap gigih copas ulang komennya.

Dokter-dokter di AS juga berani bicara. Misalnya Dr. Erickson, dokter asal AS. Tapi videonya, yang sudah ditonton 5 juta kali, dihapus oleh Youtube. Yang berani upload ulang, langsung dihapus lagi.

Lalu, saya baca berita di Aljazeera, Presiden Tanzania, John Magufuli, blak-blakan mengungkap kejanggalan atas alat swab test dan mengkritik WHO. Alasannya, ketika alat tes dipakai untuk mengetes pepaya, eh pepaya-nya juga positif Covid. Saya pernah share beritanya di fanpage ini dan ada beberapa komentator membantah si presiden dengan bla,.bla..bla.. Saya tidak terlalu paham karena pakai istilah teknis dan saya bukan orang kimia. Jadi saya diamkan saja.

Saya baru tahu kemudian bahwa si presiden ini ternyata DOKTOR KIMIA. Berarti dia punya kompetensi soal tes-tesan ini, ya kan? Sementara, apa kompetensi si komentator? Entahlah, saya juga ga kenal.

Lalu ada berita soal Presiden Madagaskar yang memilih obat herbal yang diproduksi oleh lembaga penelitian lokal. dan anak-anak di sana telah kembali sekolah. Para komentator pro WHO dan BG, mungkin akan menghina-hina lagi. Madagaskar? Desa di mana tuh?

Tapi, rupanya, Indonesia pun bergerak. Para ilmuwan Unpad dan ITB sudah berhasil bikin rapid tes sendiri. Hore!

Ini saya kutip dari Kompas (14 Mei). Para ilmuwan dari Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Bandung menemukan dua alat baru yang bisa mendeteksi virus corona atau Covid-19. Kedua alat tersebut disebut Deteksi CePAD (rapid test 2.0) dan Surface Plasmon Resonance (SPR).

Deteksi CePAD atau rapid test 2.0 bisa lebih cepat mendeteksi virus karena tidak perlu menunggu pembentukan antibodi saat tubuh terinfeksi patogen. Cara kerjanya, sampel swab dibubuhkan di permukaan alat rapid test 2.0. Hasilnya akan keluar dalam rentang waktu 15 menit. [1]

Lalu, soal obat herbal, Badan Penelitian di Kementerian Pertanian Indonesia ternyata telah melakukan uji coba terhadap berbagai jenis tanaman yang dianggap berpotensi menangkal pertumbuhan virus Corona (COVID-19). Dari berbagai jenis tanaman yang diuji, tanaman euchalyptus atau minyak atsiri dianggap paling berdampak menekan pertumbuhan berbagai jenis virus influenza termasuk Corona. [2]

Mau menghina-hina? Atau mau komen dengan penjelasan rumit yang gak dipahami awam (tapi bisa ditangkap makna di balik kata-katanya: pilih vaksin produksi BG!)?

Silakan. Mental inlander memang ga ada obatnya.

Tapi, saya yakin, kini lebih banyak orang Indonesia yang bangkit kesadarannya. Karena seperti saya tulis kemarin, masa lockdown ini memberi manusia di dunia ‘waktu’ untuk lebih banyak bertanya dan mencari jawaban.


[1] https://bandung.kompas.com/read/2020/05/14/18391871/ilmuwan-jabar-temukan-2-alat-pendeteksi-corona-rapid-test-gunakan-swab?page=all
[2] https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5007107/kementan-lakukan-riset-tanaman-untuk-obat-penangkal-corona

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh