Seperti diduga, akhirnya video Plan***** dihapus FB. Semua yang menshare video itu dapat “surat cinta”. Di surat itu, disebutkan bahwa FB telah bekerja sama dengan Mafindo untuk melakukan “fact check” dan menyatakan isinya menyesatkan.
[Update: ternyata video masih bisa diputar, hanya ditutup, dan ada tulisan kecil di paling bawah “lihat video”]
Di surat itu ada ancaman, kalo sekali-kali lagi ngeshare info “menyesatkan” akun akan dihapus. Apa sih yang disebut “menyesatkan”? Kalau kata CEO Youtube, “Apapun yang tidak sejalan dengan kata WHO, akan dihapus.” (video Plan***** awalnya ada di Youtube dan dihapus).
Baiklah FB. As you wish. Saya toh cuma numpang nulis gratis di FB, suka-suka yang punyalah. Meski, saya bertanya-tanya juga nih… info-info hoaks soal Suriah kok tidak didebunk sama FB dan Mafindo ya? Padahal dampak hoaks Suriah dahsyat juga lho: intoleransi semakin merajalela di Indonesia, ada banyak orang yang gabung sama ISIS, ada “main bom” di Suriah, ada yang “main bom” di Indonesia.
Saat saya kemarin share video Plan***** itu di sini, ada komentator yang kasih link-link informasi betapa buruknya Dr Judy Mikovits yang menjadi narsum di video itu. Padahal, di awal video sudah disebutkan bahwa Dr Judy mengalami intimidasi, dipenjara, dihancurkan reputasinya, karena membuat penemuan yang berbeda dari “narasi yang disepakati” (made a discovery that conflicted with agreed upon narratives).
Alur narasi video tsb: ada info bahwa Dr Judy dihancurkan reputasinya –> pembuat film mewawancarai Dr Judy, menanyakan apa kejadian sebenarnya –> lalu Dr. Judy dimintai pendapat soal Covid –> Dr Judy kasih pendapat –> pembuat film menampilkan cuplikan dokter-dokter AS lain yang berpendapat sejalan dengan Dr. Judy (artinya ada proses re-check informasi).
Jadi, ketika ada yang komen dengan share link info yang menjelekkan Dr Judy, analoginya tuh kayak gini:
A: Mama, kata si Bedu, ini namanya buah mangga.
B: Bukan Nak, itu namanya pepaya.
A: Ih, kata Bedu, ini buah mangga!
B: *tepok jidat.
Dialog seperti ini terjadi berkali-kali, dalam berbagai isu. Misalnya, karena saya sejak 2011 aktif nulis soal Suriah, saya sering menemukan komen begini.
**
Dina: Saya sudah menganalisis sangat banyak berita soal “pembantaian rakyat sipil Sunni oleh Assad” dan saya temukan bahwa itu berita hoaks. Ada tiga model hoaks yang disebarkan: (1) rekayasa photoshop, (2) menggunakan foto korban di tempat lain (Gaza, misalnya) disebut di Suriah, (3) fake-stage, yaitu sengaja membuat foto dan film (misalnya produksi White Helmets tentang “korban senjata kimia”).
[Tentu saja saya kasih data pendukung pernyataan saya]
Komentator: Kenapa sih Assad sedemikian kejamnya terhadap rakyatnya sendiri? Kasian sekali kaum Muslim di Suriah dibantai T_T
Dina: KAMU SEBELUM KOMEN BACA DULU GA, TULISAN SAYA? (*emosi jiwa)
**
Model komentar seperti itu adalah kesalahan berpikir paling elementer dalam ilmu logika, karena pada dasarnya, pertanyaan seperti itu menunjukkan bahwa ia “tidak sedang berpikir”.
BERPIKIR adalah gerak akal seseorang menuju hal-hal yang tidak ia ketahui, agar apa yang tadinya tidak ia ketahui itu (unknown/majhul) berubah menjadi pengetahuan (knowledge/’ilm).
Ini alurnya malah dibalik. Pengetahuan dan penjelasannya sudah ada, tapi ia malah balik mundur mempertanyakan apa yang sudah dijelaskan. Artinya. ia memang sengaja mengabaikan penjelasan. Ga mau denger, ga mau melihat, ga mau berdiskusi atas dasar koridor akal dan rasionalitas.
Saya kutip ayat ya, mumpung bulan puasa. Mereka tuli (shummun), bisu (bukmun) dan buta (‘umyun), Maka (pada dasarnya) mereka itu tidak mau berpikir (laa ya’qilun). (Al-Baqarah: 171)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.