Sekarang, mari ‘jalan-jalan’ ke Palestina dan Israel. Apa kabarnya di sana?
Di Israel (berita 7 Mei), 16.381 orang di Israel dinyatakan positif virus korona; dua pertiga-nya sudah sembuh; 240 orang telah meninggal. Pemerintah pun mulai melonggarkan pembatasan, termasuk pembukaan kembali sebagian pusat perekonomian dan daycare (penitipan anak).
Bagaimana dengan Palestina?
Di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, 527 orang dinyatakan positif; dua orang meninggal. Di Jalur Gaza, 20 orang didiagnosis Covid, 12 di antaranya sembuh.
Namun, apakah “pembatasan” dilonggarkan bagi warga Palestina? Ini adalah pertanyaan yang ironis. Mereka sejak 1948 telah “dibatasi”. Bahkan Gaza sejak 2007 sudah di-lockdown total oleh Israel sehingga pergerakan 2 juta warga Gaza terhambat; akibatnya kondisi ekonomi sangat memburuk. Bahkan nelayan mau mencari ikan di laut pun, dihalangi oleh tentara.
Warga di Tepi Barat, juga mengalami “pembatasan”, sekedar ke kampung sebelah pun, mereka harus melewati posko-posko militer Israel, dan mereka diperlakukan semaunya: kadang diberi izin, kadang tidak.
Otoritas Israel mengharuskan orang Palestina untuk mendapatkan izin terbatas untuk memasuki sebagian besar wilayah Tepi Barat (padahal itu kan daerah mereka sendiri?), termasuk Yerusalem Timur serta daerah-daerah yang diambil alih oleh pemukim. Pemukim adalah para imigran Yahudi dari luar negeri, yang difasilitasi pemerintah untuk merampas tanah di Tepi Barat, dan mendirikan permukiman di sana.
Organisasi HAM asal Israel, B’Tselem, (nah, orang Israel pun ada yang mengecam pemerintahnya sendiri yang sewenang-wenang pada Palestina), menggambarkan aturan perizinan ini sebagai “sistem birokrasi yang sewenang-wenang dan tidak transparan.”
Israel telah membangun lebih dari 700 hambatan permanen, seperti pos pemeriksaan dan penghalang jalan di Tepi Barat. Pos pemeriksaan ini dapat mengubah kunjungan ke keluarga dekat pun menjadi perjalanan yang memalukan (karena mengalami penghinaan di pos-pos militer) dan panjang.
Jadi, bila Covid ini berlalu dan manusia di dunia bisa kembali hidup normal, pembatasan dan lockdown di Palestina masih akan terus berlanjut. Entah sampai kapan.
—-
Foto: para buruh Palestina (Tepi Barat) melewati pos pemeriksaan, untuk masuk ke Israel. Sebanyak 11.500 orang Tepi Barat mendapat izin untuk kembali memasuki Israel, mereka bekerja di konstruksi, pertanian, dan industri. [berita 3 Mei 2020]
https://www.hrw.org/news/2020/04/15/covid-19-restrictions-offer-window-palestinian-experience
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.