Pagi-pagi, pening kepala saya baca beberapa komen soal video dari FP sebelah yang saya share kemarin (tentang jejaring bisnis BG).[1]
Tapi, saya berusaha menyadari bahwa semua orang punya “frame” atau “paradigma” masing-masing. Juga, yang baca postingan itu, sangat mungkin belum baca postingan saya sebelumnya. Walhasil, ibaratnya, obrolan saya sudah sampai halaman 100, dia baru mulai di halaman 1 lalu mengejek, padahal dia yang belum “nyampe”.
*Hembuskan napas.. sabar..
Jadi, ada beberapa komentator yang bertanya (dengan nada sinis; kalau nanya baik-baik tentu no problem): MASALAH-nya di mana sih kalau BG menguasai industri kesehatan global? Biarin aja lah, toh kita juga butuh produknya?
Jawaban saya:
MASALAH-nya adalah: dengan monopolinya itu, Bill Gates berpeluang MENGONTROL nasib manusia di dunia di bidang kesehatan.
Yayasan Bill Gates bahkan juga menggelontorkan uang amat banyak untuk media massa besar dunia untuk menyebarkan narasinya soal kesehatan.
“Lho, sah saja toh, dia menyebarkan narasi kesehatan?” Bahkan ada tulisan koplak di sebuah web opini, menyebut Bill Gates punya “karomah” karena saking dermawannya; itulah sebabnya ia mampu meramalkan kedatangan Covid-19.
Menurut saya, monopoli narasi (apalagi monopoli ekonomi) sama sekali tidak “sah”. Ketika ada satu individu yang memonopoli dunia kesehatan global dan melalui media massa yang dibayarnya, ia menggiring dunia untuk menerima KEBENARAN TUNGGAL soal kesehatan, jelas BAHAYA.
Untuk kasus Covid misalnya, dalam berbagai wawancaranya (karena selama Covid ini dia menjadi rujukan utama media internasional, diwawancarai melulu), Gates menyatakan bahwa dunia harus dilockdown 18 bulan sampai semua orang divaksin.
Anda mau Indonesia dilockdown terus sampai 18 bulan? Kalau ekonomi bangsa ini kolaps, lalu Indonesia harus beli vaksin untuk 270 JUTA rakyat, uangnya darimana?
(Oh tenang, ada lembaga keuangan dunia yang siap kasih utang.)
Lalu siapa yang bikin vaksinnya? BG sendiri yang bilang (ini keluar dari mulut dia sendiri, ada videonya), dia sudah BERINVESTASI di beberapa perusahaan farmasi besar. Apa BG mau bagi-bagi vaksin gratis? Anda halu kalau jawab “iya”. Rakyat mungkin terima gratis, tapi pemerintah tetap harus beli.
Padahal prediksi Bill Gates (bahwa akan ada puluhan juta yang meninggal akibat Covid) sudah terbukti salah. Omongan BG ini didasarkan pada prediksi dari 2 lembaga penelitian (yang ternyata dia juga fundingnya, London Imperial College dan IHME). Banyak negara yang mendasarkan kebijakannya soal Covid ini pada prediksi dari dua lembaga tsb.
Dan banyak dokter yang juga mengekor BG soal prediksi-prediksi ini. Misalnya, ada dokter Indonesia lulusan Harvard yang sesumbar memprediksi bahwa kita akan “kehilangan” (=meninggal) 7,5 juta orang. Okelah, kita maafkan, dia bilang gitu kan Maret.
Tapi sekarang sudah Mei, dan terbukti semua prediksi bombastis itu salah. Korban jelas ada, tapi alhamdulillah, tidak berjuta-juta di tiap negara seperti dikatakan BG dan para pengekornya. Dan alhamdulillah, tingkat kesembuhan juga tinggi.
Beberapa negara sudah mencapai kesembuhan yang signifikan dan membuka lockdown (bahkan ada yang sejak awal tidak pakai lockdown, hanya ‘pembatasan’).
Artinya: WHO dan BG tidak bisa dijadikan standar tunggal kebenaran. Masing-masing negara harus mengambil keputusan terbaik berdasarkan data yang valid di negara mereka sendiri (bukan didasarkan pada satu jenis data saja yang ternyata bersumber dari “lo lagi-lo lagi”).
Terakhir, bacalah apa kata mantan Menkes, Dr. Siti Fadilah Supari dalam wawancaranya di CNN Indonesia tgl 27 April 2020. [3]
——-
Note:
-Saya penstudi HI dan waktu S2, tesis saya membahas tentang monopoli ‘standar kebenaran’ di UNAIDS (lembaga PBB yang menangani virus HIV). Jadi, saya ada background keilmuan untuk isu ini.
-Kalau Anda mengerti sedikit saja soal EPG (Ekonomi Politik Global) kajian soal monopoli dalam suatu industri adalah sebuah kajian akademis. Jadi mengkritisi monopoli BG dalam industri kesehatan global BUKANLAH teori konspirasi sialan yang suka kalian ejek-ejek itu.
———
[1] https://www.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/3055198961193549/
[2]https://www.facebook.com/voaindonesia/videos/2854835694632260/
[3] https://www.cnnindonesia.com/…/siti-fadilah-sentil-who-bill…
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.