Ada dua pertanyaan yang disampaikan ke saya:
a. Bagaimana pendapat bu Dina soal video Flat Earth 101 episode 18-19 dan Mardigu WP soal konspirasi China dan WHO?

b. Bila benar ada yang disebut Illuminati atau Freemasonry, mengapa Iran tidak pernah menyebutnya? Bukankah Iran selama ini selalu mengklaim melawan kezaliman global?

Sebelum menjawab, saya kasih pengantar dulu ya.

Begini, seperti pernah saya jelaskan di sini [1], konspirasi itu ada. Ketika Anda, adik, dan Ayah Anda bersepakat diam-diam melakukan sesuatu yang buruk (misalnya, makan mie instant, yang dilarang keras oleh Ibu), dan berjanji, “Jangan bilang-bilang sama ibu lho!” itu namanya KONSPIRASI.

AS, Inggris, berkerja sama dengan Saudi dalam membombardir Yaman (dan kemudian diakui oleh Menlu Saudi, “Ada pejabat AS dan Inggris di ruang komando kami”) itu KONSPIRASI.

CIA bekerja sama dengan tokoh-tokoh Iran untuk menggulingkan PM Mosadegh yang mau menasionalisasi industri minyak Iran (ini kemudian diakui oleh Obama), itu KONSPIRASI.

Jadi, bila ada orang yang dengan arogan, menertawakan orang lain yang sedang “menggali lebih dalam”, tanpa memedulikan argumen yang disampaikan, saya punya dua kemungkinan: dia bodoh (tidak banyak tahu, sehingga mengganggap semua yang ‘baru’ itu sesat), atau tahu, tapi berupaya menutupi sesuatu.

Nah, apa perlunya menggali lebih dalam dari sebuah fenomena? Ya iyalah perlu banget. Apa lupa, betapa kalian dulu percaya saja bahwa Assad “membantai Sunni” (sebagaimana diberitakan oleh semua media terkemuka dunia) dan baru terkaget-kaget setelah banyak orang Indonesia gabung dengan ISIS, Al Nusra, FSA, dll, dan ‘alumni’-nya main bom di Indonesia?

Lalu, bagaimana sih langkah yang benar dalam mengungkap adanya kerjasama di balik layar atau “menggali lebih dalam dari apa yang tersurat”?

1. Kumpulkan data yang valid. Misalnya, omongan langsung (video), dokumen resmi, dan laporan jurnalistik yang kredibel, dan sejarah. Saya penstudi HI, saya tahu pasti bahwa speech (kata-kata tokoh), dokumen, dan laporan jurnalistik adalah data yang VALID digunakan untuk menganalisis suatu fenomena.

Jadi, ketika saya mengutip omongan langsung Bill Gates (di video wawancaranya, tulisan dia sendiri, atau tweet-nya), atau mengutip laporan jurnalistik dari media kredibel, lalu menganalisisnya, itu BUKAN KONSPIRASI yang Anda ejek-ejek itu.

2. Data yang dikumpulkan, harus dirangkai sedemikian rupa agar menciptakan “teori” yang mampu menjelaskan sebuah fenomena. Istilahnya: “connecting the dots” (mengaitkan antara satu titik dengan titik lainnya). Cara mengaitkannya bagaimana? Di sinilah bedanya, analisis dari seseorang yang berbasis keilmuan, dengan orang yang hanya “otak-atik gatuk” (mencocok-cocokkan). Di HI ada teori-teori yang bisa digunakan untuk memandu kita dalam menganalisis. Di bidang ilmu sosial lainnya, juga pasti ada.

Misalnya, pada bulan Desember 2019 Bill Gates mentweet “What’s next for our foundation? I’m particularly excited about what the next year could mean for one of the best buys in global health: vaccines. (Apa langkah selanjutnya yayasan kami? Saya khususnya sangat bersemangat, betapa tahun depan akan sangat bermakna bagi produk yang paling banyak dibeli di dunia kesehatan global: vaksin) [2]

Jika saya ingin menganalisis tweet ini, saya akan mengumpulkan segala data soal vaksin yang pernah dibuat oleh yayasan BG (bekerja sama dengan perusahaan farmasi), track recordnya bagaimana (misal, kasus vaksin polio di India), kerjasama BG dengan siapa saja, siapa yang paling punya suara di WHO, dll. Saya membandingkan narasi pro-kontra. Lalu, sebagai penstudi HI saya akan pakai, misalnya, konsep neolib untuk memandu analisis saya. Kemudian, barulah saya “connecting the dots” sehingga menghasilkan sebuah penjelasan yang paling mungkin, tentang apa yang terjadi.

Kenapa disebut ‘paling mungkin”? Karena memang masih ‘mungkin’. Nanti beberapa tahun lagi, ketika dokumen resmi bisa diminta publik, barulah kepastian didapat. Misalnya, ketika dokumen CIA tahun 1986 bisa diakses publik, terbukti bahwa sejak 1986-pun AS sudah berusaha mengganggu pemerintahan Suriah demi Israel. Atau dokumen tahun 1970-an yang mengungkap bahwa AS pernah melakukan uji coba virus Dengue (demam berdarah) yang diinjeksikan ke nyamuk.

Atau, terungkap melalui kesaksian pelaku sejarah, misalnya buku yang ditulis Dr. Siti Fadilah Supari soal tekanan WHO dan AS di masa wabah Flu Burung.[3]

Bersambung ke bagian-2: https://web.facebook.com/…/a.2341431836786…/917718795321043/

[1] https://web.facebook.com/…/a.2341431836786…/895864257506497/
[2] https://twitter.com/billgates/status/1207681997612748801
[3] https://web.facebook.com/…/a.2341431836786…/904523149973941/

 

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh