Singkat saja. Trump kemarin merilis “rencana perdamaian” Palestina-Israel yang disebutnya “kesepakatan abad ini”. Rencana ini tidak masuk akal dan tidak akan bisa berjalan karena:
1. Dalam resolusi konflik, mediator seharusnya pihak yang netral. Tapi dari cuitan Trump ini, jelas sekali dia ada di pihak Israel. Dia menulis, “Saya akan selalu berdiri bersama Israel dan orang-orang Yahudi. Saya sangat mendukung keselamatan dan keamanan mereka dan hak mereka untuk hidup di tanah air bersejarah mereka. Saatnya damai!”
2. Palestina-Israel sesungguhnya bukanlah KONFLIK. Kita menyebut “konflik” jika terjadi antara dua pihak yang kurang-lebih setara kekuatannya. Sementara itu, yang terjadi di Palestina adalah PENJAJAHAN atau pendudukan atas tanah Palestina, oleh orang Israel. Karena itu, yang dibutuhkan bukan mediator tapi penegakan hukum internasional; penegakan keadilan. Selain itu, dalam kondisi terjajah, sebuah bangsa berhak untuk angkat senjata melawan penjajahnya.
Hanya AS, Israel, dan ZSM yang bilang pejuang Palestina adalah teroris.
Silahkan lihat peta. Tahun 1947, PBB merilis Resolusi no 181 yang membagi 2 wilayah Palestina: sebagian dijadikan negara Arab-Palestina, sebagian dijadikan negara Yahudi-Israel. Wilayah hijau di peta adalah wilayah yang didesain untuk Palestina. Dari desain saja kita bisa lihat betapa absurdnya pembagian tanah itu.
Masa 1 negara harus dipisah berjauhan begitu? Presiden dan pejabat Palestina yang berada di Tepi Barat musti lewat wilayah Israel dulu supaya bisa masuk wilayah Gaza.
Di peta, saya kasih tanda panah merah [bawah], itu usulan pembangunan terowongan bawah tanah, supaya orang Tepi Barat bisa masuk ke Gaza.
Semua dilakukan atas nama sejarah: RIBUAN TAHUN LALU, konon tanah itu milik nenek-buyut-moyang Yahudi HARI INI.
[bayangkan bila turunan orang Yunan yang tinggal di Nusantara jadul tiba-tiba datang lagi dan mengklaim memiliki Indonesia dengan alasan yang sama]
Atau, atas nama KITAB SUCI [konon, ada ayat di kitab Yahudi bahwa itu tanah milik Yahudi]
Tentu saja sejak awal, warga Arab Palestina menolak, sudahlah tanahnya dirampok, didesainkan negara yang aneh pula. Tapi akhirnya, setelah menjalani berbagai kekejaman selama puluhan tahun (pengusiran, pembunuhan, perampasan rumah dan kebun, secara berkala dibombardir, dipenjara semena-mena), pihak Palestina mengalah, menerima pembagian ala Resolusi 181 yang jahat itu. Inilah “solusi dua negara” yang dipaksakan PBB itu: Palestina harus mau terima wilayah hijau di peta itu sebagai negaranya dan mengikhlaskan wilayah lain untuk Israel.
Ok, sekarang (sebagian) dari warga Palestina mau terima. Yang penting bisa hidup damai, tidak sewaktu-waktu dibom atau diusir dari rumah. Anak-anak bisa sekolah tenang, tidak ditembakin semaunya oleh tentara.
Tapi, itupun tidak mungkin lagi saat ini. Saya kasih tanda panah merah [atas], itu menunjuk ke permukiman-permukiman khusus Yahudi.
Jadi, selama ini yang terjadi: Israel semena-mena merampas tanah (termasuk menghancurkan rumah-rumah di atasnya) di Tepi Barat, lalu dibangunlah permukiman khusus Yahudi (yang didatangkan dari berbagai negara dunia, dalam program “aliyah” atau “mudik”).
Ada sangat banyak permukiman Yahudi yang dibangun secara ilegal (melanggar Konvensi Jenewa dan berbagai resolusi PBB, serta sudah divonis ilegal oleh Mahkamah Internasional th 2004).
Di antara permukiman itu dibangun jalan-jalan yang hanya boleh dilalui warga Israel. Coba bayangin, di kecamatanmu, ujug-ujug dibangun kompleks khusus untuk etnis tertentu. Untuk bisa lewat antar RT, warga kecamatan musti lewat posko militer, ditahan berjam-jam sebelum bisa lewat. Padahal sangat mungkin kamu tinggal di RT 1, tapi sekolah anakmu ada di RT 3 dan itu harus muter dulu, karena terhadang oleh perumahan etnis tertentu itu. Tentara pun sangat galak, semena-mena menembaki warga kecamatan.
Artinya, orang Israel sebenarnya tidak berniat memberikan wilayah hijau di peta itu untuk Palestina. Mereka ingin menguasai semuanya. Segala jenis upaya “damai” hanya untuk menutupi perampasan tanah yang terus terjadi di Tepi Barat.
Ok, segini dulu sementara ini. Semoga bisa lebih dipahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di Palestina hari ini.
——-
Antisipasi:
-Biasanya ZSM komen: “salah sendiri, dulu Palestina menolak resolusi 1947” –> ini jawabannya sudah saya tulis ya, tapi bagaikan zombie, mereka akan mengulang-ulang sanggahan yang sama, “yang penting ngetroll demi kejayaan Israel”.
-Biasanya ada ZSM yang nekad copas ayat “suci” mereka, yang menyatakan bahwa “Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan”. Itu sih Tuhan elo. Tuhan kami bukanlah Tuhan yang mengizinkan pembantaian dan perampasan tanah.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.