Bila benar ada kamp penyiksaan terhadap Muslim Uighur tentu kita perlu bertindak menekan China agar membubarkan kamp itu. Sikap teguh membela kemanusiaan kan juga dilakukan Indonesia dalam kasus Rohingya dan Palestina. Sekali lagi, BILA BENAR ada kamp penyiksaan itu ya.
Artinya, perlu ada upaya melakukan klarifikasi atas berbagai pemberitaan yang beredar. Sudah ada beberapa netizen yang menulis klarifikasi soal Uighur, beberapa di antara mereka pernah/tinggal di China, juga bisa bahasa China. Kemarin saya share tulisan Novi Basuki yang menguasai bahasa Mandarin, dia mengecek langsung dokumen yang diributkan media Barat itu; dan ternyata ditemukan distorsi informasi.
Tapi saya belum menemukan ada yang melakukan klarifikasi secara digital. Berikut ini saya ceritakan pengalaman kami dulu ya, siapa tahu ada di antara Anda (para pengamat China, yang bisa bahasa China, pernah di China, dll) yang tergerak untuk melakukan hal yang sama.
Begini, konflik Suriah dulu juga diawali dengan tersebar masifnya foto dan video tentang “warga Sunni dibantai oleh rezim Syiah”. Nah yang dilakukan oleh segelintir netizen pengamat Timteng waktu itu, selain menyodorkan data statistik dan analisis berdasarkan logika, geopolitik, teologis, dll juga melakukan verifikasi digital.
Kami dulu itu ya, dengan telatennya menguji satu persatu foto itu, dimasukkan ke google image, dilacak sampai ke sumber asli. Ini memang cara mudah, tapi butuh WAKTU dan ketelatenan. Pernah saya hitung, saya mendeteksi 4 foto, perlu waktu 6 jam. Apa kami pengangguran? No. Kami dulu kerja di sela-sela pekerjaan utama. Kami dibayar? No. Malah pernah kami melakukan fundaraising untuk bayar biaya warnet (karena sebagian anggota tim harus ke warnet).
[Siapa ‘kami’ ini? Kami kebetulan saja saling kenal di FB, saling berjejaring setelah menyadari bahwa kami punya pendapat yang sama soal Suriah: bahwa ini kerjaan AS, Israel dan proxy-proxynya. Kalau dibiarkan bahaya, karena akan mengacak-acak Indonesia. Dst. Kebetulan, sebagian dari kami juga paham dikit-dikit bahasa Arab. Jadi ga ‘keriting’ lah kalau menelusuri sumber berbahasa Arab.
Kami kalau ‘rapat’ ya di grup FB saja, bagi-bagi tugas, lo lacak foto yang ini, lo lacak foto yang itu. Btw, grup ini sudah bubar, gara-gara berbeda pendapat soal pilpres. Tragis :D]
Setelah White Helmets terbentuk, mereka bikin video dan foto orisinil (=dibuat sendiri), jadi untuk membuktikan kehoaxannya, butuh kerja lebih keras lagi. Untungnya para netizen antiperang di luar negeri juga bergerak. Mereka lebih canggih lagi kerjanya, termasuk mendeteksi suara dengan software sehingga bisa mengetahui, suara di sebuah video editan atau bukan.
Bukan cuma netizen, dokter-dokter pun turun tangan membantu memverifikasi video “korban senjata kimia”. Misalnya, tim dokter HAM asal Swedia (Swedish Doctors for Human Rights) menganalisis video yang ditampilkan di sidang Dewan Keamanan PBB. Mereka menyimpulkan, ada kesalahan prosedur fatal yang dilakukan “tim medis” di video itu. Bahkan mereka melakukan deteksi suara: ternyata suara yang terdengar adalah “masukkan ibunya ke frame!” [maksudnya, si ‘dokter’ di video, dalam kondisi -seharusnya- tegang karena sedang menangani korban senjata kimia, masih sempat mikirin, siapa saja yang harus muncul di kamera/video]. Kesimpulan? Itu video ‘akting’, rekayasa WH.
Saya pun pernah meminta bantuan seorang ahli kedokteran bencana untuk menganalisis sebuah video serangan senjata kimia di Douma. Bisa baca di sini [1].
Klarifikasi bisa juga dilakukan dengan melacak narasumber yang dipakai media Barat. Misalnya, para netizen antiperang dulu melacak FB-nya orang-orang yang muncul di video White Helmets, eh ketahuan mereka berteman akrab dengan teroris, bahkan juga berpose menenteng senjata. Kesimpulannya, WH dan teroris sebenarnya satu grup, cuma WH beda seragam.
ARTINYA: Anda, para pengamat China, terutama yang bisa bahasa China, perlu bekerja sedikit lebih rajinlah. Anda sudah menulis, “tidak mungkin… sepanjang sejarah.. logikanya.. bla..bla..” itu sudah bagus. Tapi sebagian orang tetap skeptis karena ada banyak foto dan video yang mengerikan yang beredar tanpa ada yang memberi jawaban.
Demikian sekedar saran. Mengapa ini penting? Karena, konflik ini dibawa-bawa ke Indonesia oleh sebagian orang, sama seperti konflik Suriah. Berarti perlu ada respon yang tepat. Tentu bukan cuma netizen yang harus bergerak, tapi juga pemerintah. Jangan diam teruslah.
—
[1]https://dinasulaeman.wordpress.com/2018/04/11/serangan-senjata-kimia-di-douma/#more-5459
Berita foto: https://www.voltairenet.org/article202535.html
Isi berita: ada komunitas Al Qaida asal Uighur di kota al-Zanbaki, Suriah, populasinya 18.000 orang (jihadis+istri&anak).
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.