Karena ada beberapa yang bertanya soal Kurdi dan proyek Rojava-nya, saya berusaha mengurai satu-persatu ya. Kita mulai dari filosofi dasarnya, yaitu anarkisme. Sudah dua kali saya berjumpa dengan anak muda yang terpesona pada Rojava [sebuah ‘komunitas anarki’ di Suriah]. Saya pernah berusaha membuka telinga, duduk di markas mereka [di Jakarta, beberapa tahun yll] dan mendengar argumen mereka soal anarkisme ini. Tapi belum ketemu ‘barang’-nya [pertanyaan saya ini belum terjawab dengan memuaskan: Jadi ‘barang’ yang kalian perjuangkan di Suriah itu bentuknya kayak apa?].
Jadi, sebelum bicara soal aspek geopol-nya Rojava, kita kupas dulu anarkisme ini. Apalagi sepertinya banyak juga anak muda Indonesia yang terpesona pada pemikiran satu ini. Berikut ini saya ketik ulang dalam bahasa Indonesia modern, sebuah risalah yang menjelaskan dan mengkritisi anarkisme. Risalah ini berasal dari ‘koran’ jadul tahun 1932 bernama Fikiran Ra’jat, yang pemred-nya adalah Bung Karno [kalau kalian meremehkan Bung Karno, waduh, kalian musti baca-baca lagi lebih banyak].
***
Perkataan anarkisme itu asalnya dari perkataan “a” dan “archie”, “a” artinya zonder atau tidak ada, “archie” asalnya dari perkataan Yunani yaitu memerintah atau menguasai. Jadi anarki artinya ‘tidak ada yang memerintah’ atau zonder pemerintahan. Anarkisme merupakan pemikiran yang menyatakan bahwa negara ini lebih baik tanpa pemerintahan, artinya rakyat harus hidup merdeka tidak terikat dengan apapun jua (tentang benar-tidaknya, nanti kita bicarakan).
Pikiran yang menyatakan bahwa ‘zonder pemerintahan’ itu lebih bagus untuk menjaga ketenteraman umum adalah disebabkan mereka menganggap bahwa kemerdekaan di dalam arti yang seluas-luasnya (tidak terikat oleh apapun) adalah syarat utama untuk menjaga ketenteraman umum, sebab itu tidak heran jika Proudhon [filsuf pemikir anarkisme] mengatakan, “Kemerdekaan adalah ibunya ketenteraman”.
Kaum anarkisme mengakui juga bahwa mereka itu termasuk golongan kaum sosialis karena mereka juga sependapat dengan kaum sosialis, bahwa semua kejahatan disebabkan adanya kepemilikan privat dan mereka menghendaki supaya alat-alat produksi harus menjadi milik bersama.
Kaum anarki membedakan makna kepemilikan (“eigendom”) dan milik (“bezit”) : “eigendom” kalau kita punya barang lebih dari yang terpakai, bezit kalau barang itu perlu untuk hidup. Jadi segala barang yang perlu buat hidup, menurut teori mereka, adalah hak seseorang, tapi bila barang itu lebih dari yang dibutuhkannya, maka seseorang itu tidak boleh memilikinya dan disebut “eigendom”.
Dengan ini tampaklah pada kita perjuangan mereka itu adalah untuk “bezit” melawan “eigendom”, atau untuk keperluan hidup seseorang melawan segala sesuatu yang melebihi kebutuhan seseorang.
Berbeda dengan kaum sosialis yang menghendaki persamaan hak atas alat produksi dengan jalan pemerintahan kerakyatan, sehingga [perlu] merebut kekuasaan dulu dalam pemerintahan, kaum anarki juga menghendaki persamaan hak atas alat produksi tapi dengan jalan berdamai bersama-sama rakyat dan untuk mencapainya, rakyat harus merdeka semerdeka-merdekanya, artinya tidak ada apapun yang boleh mengikatnya.
Kaum sosialis mau mencapai cita-cita mereka dengan jalan pemerintahan kerakyatan dan dengan aturan-aturan hukum (“wet”) tetapi kaum anarkisme dengan jalan menghilangkan segala hukum dan menolak semua pemerintahan dengan membiarkan rakyat sendiri memutuskan mau berkumpul atau tidak, tanpa ada yang memerintah atau yang menguasainya.
Jadi teranglah bagi kita bahwa kaum anarkisme memusuhi segala macam pemerintahan, raja atau republik, kapitalisme atau kerakyatan, karena dalam pendapat mereka, selama ada orang yang mengatur aturan untuk orang lain, artinya tidak ada keadilan. Mereka menghendaki supaya tiap manusia mengatur dirinya sendiri dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengurus keadaaannya sendiri tanpa ada yang mencampurinya.
Mereka menganggap segala apa saja yang mengambil barang-barang yang melebihi keperluannya adalah perampok; sebab itu mereka tidak mau mengakui hak kaum kapitalis untuk mengambil [profit] sangat banyak dan menguasai tanah-tanah. Sebab itu tidak heran jika mereka menuduh bahwa yang berkuasa dan menjadi raja adalah kaum kapitalis sedang pemerintah hanyalah alat untuk memberi kesempatan kepada kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.
Untuk menjelaskan kepada pembaca kami di sini akan bicarakan secara ringkas apa yang tidak mereka setujui dan apa sebabnya mereka tidak setuju.
1. Kaum anarki tidak setuju dengan kapitalisme karena mereka berpendapat bahwa ini memberi kesempatan bagi timbulnya kejahatan, pembunuhan, kesengsaraan, kelaparan, dsb, sebab dengan kapitalisme ini seseorang mendapatkan kesempatan untuk hidup dari tenaga dan pekerjaan orang lain dan memberi kesempatan untuk menumpuk harta yang banyak.
2. Mereka tidak setuju dengan agama karena menganggap dengan jalan agama banyak manusia menjadi budak sesama manusia. Dengan jalan agama, kata mereka, orang meneguhkan pendirian suatu pemerintahan dan dengan memakai nama agama banyak sekali kejahatan yang dilakukan. Sebetulnya yang berdiri di belakang agama ini, kata mereka, sebenarnya adalah kaum kapitalis.
3. Mereka tidak setuju dengan adanya suatu pemerintahan sebab katanya pemerintahan itu adalah satu perkakas saja dari orang yang hendak menjalankan kemauannya sendiri yang bisa merugikan orang lain, dengan jalan pemerintahan orang bisa menjalankan aturan-aturan yang mengikat orang lain, apalagi kalau diingat bahwa dengan adanya pemerintah orang mengakui adanya [otoritas] yang lebih tinggi dari dirinya sendiri, sehingga manusia jadi terikat.
4. Mereka anti pada kekuasaan hakim dan polisi sebab katanya ini semua sebagai alat bagi pemegang kekuasaan.
5. Di dalam pergaulan hidup ini mereka tidak setuju jikalau ada peraturan kawin yang menurut hukum atau agama karena katanya ini semua mengikat lelaki dan perempuan dan jikalau tidak suka mereka terpaksa terikat juga.
Menurut pemikiran mereka apabila kemerdekaan manusia yang seluas-luasnya tercipta, tentulah semua rakyat akan selamat hidupnya karena tidak ada aturan-aturan yang mengikatnya. Maka itu, kaum anarki selamanya berupaya menghapuskan apa saja yang ada di dunia ini untuk untuk mendatangkan dunia yang baru. Cara mereka bekerja adalah dengan kekerasan dan main hancurkan saja dan mereka tidaklah mempunyai belas kasihan dalam pekerjaan mereka. Pendek kata, untuk mencapai maksudnya, mereka tidak segan untuk mengorbankan orang yang lain yang tidak bersalah, sebab mereka berpendapat, demi keselamatan yang lebih besar, tidak mengapa mengorbankan yang sedikit.
Di dalam pendapat kita, anarkisme adalah satu pendirian yang negatif, satu asas yang kosong karena segalanya itu tidaklah berlandaskan pada keadilan yang sebenarnya. Kemerdekaan seseorang yang dimaui kaum anarkis adalah satu hal yang hanya bisa didapati dalam teori, tapi tidak bisa dijalankan dalam praktiknya. Karena, manusia itu hidupnya tergantung pada rohani dan jasmani, jika salah satu daripada ini rusak maka ia pun tergantung penghidupannya pada manusia yang lain. Selain daripada itu, penghidupan manusia juga tergantung dengan keadaan yang lain, yang mana sedikit atau banyak harus mengindahkan keadaan orang lain dan ini hanya teratur kalau ada aturan-aturan yang bisa memberi sanksi dalam hal ini.
Lain daripada itu, untuk menjalankan anarkisme ini tentu haruslah mempunyai organisasi, yang tentunya tunduk pada aturan-aturannya dan kalau aturan-aturan ini ada tentulah ini bertentangan sendiri dengan pendirian awal mereka [menolak segala aturan].
Selain daripada itu, sebagai orang yang juga termasuk dalam bagian sosialis, tentu mereka harus memperhatikan nasib kaum proletar, untuk melepaskan mereka dari kungkungan kapitalisme. Namun karena pendiriannya memang sudah negatif dan dengan teorinya yang memajukan individu-individu [individualis] tentu saja hal ini tidak cocok dan tidak bisa mereka jalankan. Apalagi kalau kita pikirkan bahwa rakyat yang miskin itu tidaklah memikirkan cita-cita yang tinggi, tetapi terutama memikirkan keadaan nasibnya atau nasib bangsanya sendiri, bagaimana bisa makan cukup dan mendapatkan nasib yang senang.
Sebab itu, segala yang diusulkan oleh anarkisme adalah satu impian saja dan tidak bisa diimplementasikan karena pergaulan-pergaulan kita selamanya akan saling berhubungan, karena itu satu sama lain harus tunduk pada aturan bersama.
File asli Fikiran Ra’jat bisa diunduh di sini: https://pustaka.anarkis.org/portfolio/222/
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.