Hari Ahad yang lalu (15 Juli), delapan pemuda Yahudi-Amerika yang mengikuti program Birthright [tur gratis ke Israel], membelot dari rombongan. Seseorang dari mereka menyampaikan alasan, “…Ini adalah kesempatan yang nyata, dan jarang, buat kita untuk mendengar dan mempelajari, dan untuk berpihak melawan penjajahan yang tiada henti dan [berjuang] untuk kemerdekaan dan kesetaraan.”
Mereka kemudian, dengan didampingi aktivis Israel pro-Palestina, mengunjungi rumah keluarga Sumreen di Jerusalem timur, yang sejak awal 90-an sudah berkali-kali mengalami upaya pengusiran dari aparat dengan alasan bahwa tanah dan rumah mereka sudah dikuasai oleh the Jewish National Fund dan Ir David Foundation.
Mereka juga berkunjung ke Hebron. Di sana, para pemukim Yahudi melontarkan kata-kata kasar kepada mereka. Seorang anak Yahudi bahkan melempari mereka dengan cat. Tentara Israel yang ada di sekitar kejadian itu diam saja, menyaksikan para pemuda Yahudi-AS dan para aktivis perdamaian Israel itu diintimidasi oleh orang-orang Yahudi pro-Zionis [lihat: ada 2 jenis Yahudi dalam kalimat ini].
Hanya dua pekan sebelumnya, lima pemuda Yahudi-AS yang juga peserta Birthright membelot dan mendatangi wilayah Palestina untuk melihat sendiri bagaimana kehidupan warga Palestina di bawah penjajahan Israel. Saat akan turun dari bis, mereka ditakut-takuti oleh anggota rombongan yang lain, antara lain, “Nanti kalian dibunuh orang Arab! Nanti kalian diperkosa!”
Program Birthright (kunjungan gratis para pemuda Yahudi AS ke Israel) ini didanai oleh miliarder Yahudi-AS bernama Sheldon Adelson (yang juga mendanai kampanye orang-orang Partai Republik, termasuk Donald Trump). Adelson menghabiskan uang 47 juta Dollars AS setahun untuk ‘memberikan edukasi kepada para pemuda Yahudi dari seluruh dunia mengenai Israel’ [FYI, ada lho, orang-Indonesia-pro-Israel (ZSM) yang aktif menulis dengan tagar ‘edukasi Israel’].
Birthright adalah bagian dari Hasbara [=propaganda; pelakunya disebut ‘hasbarist’]. Selama ini, Israel melakukan berbagai upaya propaganda untuk menjustifikasi kejahatannya, biasanya dengan cara-cara standar dan dicopy-paste oleh para hasbarist resmi atau hasbarist gratisan [mereka yang sok-tahu dan merasa hebat dengan sikap sok-netral, atau mereka yang tidak sadar].
Propaganda basi mereka [saking sering diulang-ulang], misalnya: elit Hamas itu bermewah-mewah! [dengan tujuan mendiskreditkan perjuangan bersenjata; padahal kebejatan oknum Hamas tidak membuat esensi perjuangan bangsa Palestina menjadi salah], Yahudi adalah umat pilihan [pakai ayat Alkitab, persis Wahabi yang pakai ayat Quran untuk membenarkan aksi terornya], Arab itu sejak dulu memang hobi berperang; sementara Israel adalah bangsa beradab, wajar saja bila Israel memerangi bangsa haus darah itu [yang menulis begini biasanya pura-pura lupa kalau dulu Imperium China, atau kerajaan Nusantara juga saling berperang satu-sama lain; mereka berusaha mengalihkan fokus bahwa yang terjadi adalah perang antara entitas penjajah versus bangsa terjajah], dll.
Masifnya aksi Hasbara membuat banyak orang tidak percaya bahwa Israel melakukan kejahatan. Mereka meyakini bahwa orang Arab-lah yang jahat. Seperti ditulis oleh seorang penulis asal Israel, Skoblinski (orang tuanya bermigrasi dari Uni Soviet ke Israel), “Saya dibesarkan dengan meyakini bahwa orang Arab ingin melempar kami [Yahudi] ke laut. Sampai saya berjumpa dengan seorang asal Gaza; dan saya pun mulai mempertanyakan segala yang diajarkan kepada saya.”
Tulisan Skoblinski dimuat di sebuah majalah online bernama http://www.972mag.com; majalah ini dibuat oleh para penulis Israel untuk menyuarakan protes mereka atas kejahatan dan penjajahan rezim Zionis.
Berkat masifnya pemanfaatan media sosial di seluru dunia, informasi tentang kejahatan Israel tidak bisa lagi dibendung. Para pemuda Yahudi AS peserta tur Birthright itu pun ingin tahu bagaimana kejadian yang sesungguhnya, dari tangan pertama.
Menurut peserta tur bernama Becky Wasserman (26), “…selama tur ini mereka [panitia] tidak mau bicara kepada kami mengenai penjajahan; kami tidak mendapatkan jawaban. Mereka memberi kami peta Israel dimana tidak dicantumkan perbatasan dengan Tepi Barat. Ini sangat disayangkan karena Birthright seringkali menjadi satu-satunya kesempatan bagi pemuda AS untuk mempelajari apa yang sesungguhnya terjadi.”
Dengan semakin mudahnya orang mengakses media sosial, kejahatan Israel sulit sekali ditutup-tutupi. Foto para demonstran Gaza (termasuk perawat Razan al-Najjar) yang ditembaki Israel tersebar sangat masif, membuat orang waras malu bila masih membela Israel. Orang semakin tahu mengenai ‘penjara terbuka terbesar di dunia’ bernama Gaza.
Bahkan orang-orang Yahudi pun semakin keras mengecam rezim Zionis-Israel. Mereka melakukan berbagai aksi, misalnya Breaking the Silence dan IfNotNow yang mengawal para pemuda yang berani keluar dari rombongan Birthright. Atau, B’Tselem, mengadakan kampanye di media massa, menyerukan agar tentara Israel mengatakan “Sorry Commander, I cannot shoot”. Atau para penulis Yahudi di 972mag.com yang tak kenal lelah menulis tentang kejahatan Israel yang mereka saksikan sendiri.
Sayangnya, di ranah medsos Indonesia, masih banyak netizen yang tak sadar bahwa dirinya sedang sekubu dengan para Hasbarist. Mereka menulis status atau komen yang persis sama dengan Hasbarist, misalnya, menyalahkan perjuangan bersenjata dalam mengusir Israel, atau menghina aksi-aksi demo pro-Palestina [yang murni, tentunya, bukan demo yang ditunggangi agenda ganti presiden]. Padahal, menyalahkan Hezbollah, Hamas, Jihad Islam, FPLP yang angkat senjata mengusir Israel dari tanah air mereka, sama saja dengan menyalahkan para pahlawan bangsa Indonesia yang dulu berjuang mengusir Belanda.
Bila kita mengakui bahwa dalam berjuang itu ada banyak cara/strategi, mengapa demi membela satu strategi tertentu, kita merasa perlu mengejek strategi yang lainnya? Jadi, hati-hati, Hasbarist bayaran [istilah lain: ZSM] sedemikian lihai menyusun kata-kata; seolah benar padahal cacat logika. Jangan sampai kita merasa sedang membela Palestina tapi kata yang terucap justru menjadi perpanjangan tangan –gratisan pula—bagi Hasbarist.
—
Foto: kunjungan pemuda Yahudi-AS ke rumah keluarga Sumreen (15/7/ 2018)
Ref:
https://972mag.com/birthright-walk-offs-get-a-taste-of-settler-violence-in-hebron/136740/
https://splinternews.com/birthright-participants-leave-trip-to-visit-palestinian-1827616340
https://www.haaretz.com/israel-news/.premium-young-jews-walk-off-birthright-trip-to-join-anti-occupation-activity-1.6271943
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.