ghouta2
Tentara Suriah mengevakuasi warga E.Ghouta yang sudah lebih 5 thn disandera teroris. Sumber foto

Postingan saya di Fanpage berjudul “Kemana Uangnya Mengalir?” (saya copas di sini), mendapatkan respon cukup luas. Para pembela ACT dan pembela “mujahidin” beramai-ramai menuliskan komentar. Sebagian dihapus karena sangat kasar. Tapi ada juga yang dengan santun menyampaikan argumen bantahan. Anda bisa baca diskusinya di sini.

Dari semua sanggahan yang diberikan itu, tak ada satupun yang menyentuh persoalan sesungguhnya. Istilah anak jaman now: ngeles.

Berikut ini tanggapan umum saya :

Dalam wawancara Indopress.id dengan ACT ada poin penting yang saya garisbawahi: ACT TIDAK MINTA IZIN KEPADA PEMERINTAH SURIAH DAN MENUDUH PEMERINTAH MENGEBOM WARGANYA SENDIRI. Di situ juga ada wawancara dg NGO yg lain, yaitu Dr Joserizal yang mengatakan: LSM kemanusiaan tidak boleh memihak.

Dari berbagai jejak digital, mulai bendera, partner yang dipakai, yaitu IHH Turki (dengan segala rekam jejaknya, termasuk pernah ditangkap polisi Turki kedapatan bawa senjata), narasi yang selama ini dipakai oleh ACT (yaitu menuduh pemerintah Suriah yg mengebom warga sipil, padahal kejadiannya sebaliknya; para teroris di E. Ghoutalah yg selalu mengebom warga sipil Damaskus –ini diverifikasi juga oleh ulama Suriah, Dr. Sawwaf yang diwawancara Kompas TV), serta klarifikasi dengan mahasiswa Indonesia di Suriah, pembaca dapat (dan berhak) menganalisis, kepada siapa ACT berpihak.

Mengapa mencari tahu keberpihakan ini penting buat KAMI (kaum moderat pro NKRI)? Karena FAKTA-nya, yang angkat senjata di E.Ghouta dan menjadi sasaran gempuran militer Suriah adalah Jaish al Islam, Faylaq ar Rahman, Hay’at Tahrir Al Sham, Harakat Nour al-Din al-Zenki, dan Harakat Ahrar al-Sham al-Islamiyya. Mereka ini bersenjata tempur lengkap, gak kalah dari senjata yang dimiliki negara.

JADI, secara faktual, mereka ini BUKAN rakyat sipil, tapi petempur.

PERSEPSI Anda yang menentukan bagaimana Anda memandang mereka. Milisi-milisi jihad itu berafiliasi dengan ormas-ormas transnasional yang punya cabang di Indonesia (Al Qaida, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, dll). Bagi anggota organisasi2 radikal itu (atau simpatisannya), milisi bersenjata di Suriah adalah orang yang sedang berjihad.

ghouta1
Tentara Suriah mengevakuasi warga E.Ghouta yang sudah lebih 5 thn disandera teroris. sumber foto

Tapi KAMI kubu moderat pro-NKRI akan melihatnya berbeda. Kami menolak kelompok2 radikal itu membuat kacau di Indonesia sebagaimana mrk membuat kacau dan membunuh banyak warga Suriah. Bayangkan bila di Bekasi bercokol milisi-milisi bersenjata yang tiap hari menembakkan ratusan mortir/bom ke Jakarta. Bahkan mereka meracuni sumber air yang dikonsumsi penduduk Jakarta. Itulah yg dilakukan para “mujahidin” di East Ghouta (Bekasi-Jakarta hampir sama dengan E.Ghouta-Damaskus). Bahkan kemarin (21/3) mrk masih mengirim bom ke Damaskus, 35 orang tewas.

Kami menolak aksi seperti itu.

Tapi para pendukung “mujahidin” terus berkeras menganggap aksi jahat itu sebagai JIHAD dan terus menyebarkan narasi bohong bahwa terjadi pembantaian warga sipil oleh pemerintah Suriah (plus narasi Sunni-Syiah). Inilah yang kami lawan.

Menyumbang untuk kemanusiaan itu mulia.

Tapi bila narasi yang disampaikan untuk menggerakkan masyarakat agar mau merogoh kocek adalah narasi-pro mujahidin, membawa narasi Sunni-Syiah, memprovokasi kebencian pada kubu yang dituduh Syiah (padahal pemerintah Suriah sangat sekuler dan plural, menteri-menterinya bahkan mayoritas Sunni), tentu bermasalah.

Apa masalahnya? Karena kebencian itu bagai api, akan membakar ke segala penjuru. Dampaknya sudah sangat terasa di atmosfir Indonesia: kebencian meruyak ke segala arah; melebar ke semua isu. Fasisme atas nama agama dengan cara mengusung kebencian semakin merajalela.  Dan siapa yang membawa narasi kebencian ini? Tak lain mereka yang berafiliasi dengan ormas-ormas radikal yang angkat senjata di Suriah.

==

Lalu, ada yang posting video di komen, diklaim sebagai video dapur umum ACT di Ghouta.

Jawaban saya

Jadi begini cara memverifikasi sebuah info: lakukan cross check. Ketika bahkan PBB pun mengaku tidak bisa masuk ke Ghouta, bahkan tentara Suriah pun tidak bisa masuk ke sana, karena teroris menggunakan warga sipil sebagai tameng [ini sudah diverifikasi dari berbagai sumber ya, yang terbaru yg menyatakan ini adalah ulama Suriah, Dr Syekh Sawwaf, di Kompas TV), lalu ACT tiba-tiba mengaku ada di sana (meskipun video juga tidak bisa diverifikasi, apa benar2 ada di E. Ghouta, sangat mungkin di mana saja).

Dari wawancara yg dilakukan Indopress.id, beberapa pihak menyatakan tidak mungkin mereka bisa masuk ke E. Ghouta. Tapi katakanlah dapur umum itu benar-benar di E. Ghouta, pertanyaanya: kok bisa ACT masuk ke sana? Dengan siapa mereka berafiliasi? Jelas bukan dengan PBB atau pemerintah Suriah atau KBRI (dan ini pun sudah dikonfirmasi kepada narasumber yang diwawancarai Indopress.id). ACT pun dalam wawancara itu  jelas-jelas mengakui TIDAK MINTA IZIN KE PEMERINTAH SURIAH. Bagaimana cara ACT masuk ke E.Ghouta juga sudah ditanyakan oleh wartawan, dan ACT menjawab: POLANYA DIRAHASIAKAN.

Demikian.

Simak video seorang tentara Suriah yang gembira karena bisa bertemu ibunya lagi setelah 5 tahun (karena warga sipil disandera teroris, sang ibu tak bisa keluar, si tentara pun sama saja bunuh diri kalau mau masuk ke E. Ghouta):

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh

Categories: , ,