
Di jalanan Bandung banyak sekali spanduk minta sumbangan untuk Ghouta. Di mal-mal, anak-anak muda ‘mengemis’ pada pengunjung mal agar menyumbang untuk Ghouta.
Nih, tonton video ini, supaya tahu, seperti apa situasi Ghouta sebenarnya.
Mengapa mereka [tukang minta sumbangan dan para simpatisannya] terus berkeras mempertahankan semua kebohongan ketika sekian banyak bukti sudah dipaparkan?
Soalnya, siapa yang mau ganti biaya bikin spanduk dan baliho raksasa yang sudah terlanjur dibuat itu? Kamu?
Menyumbang untuk kemanusiaan jelas mulia. Rakyat Suriah yang sudah 7 tahun menderita karena negaranya diperangi oleh “mujahidin” tentu perlu dibantu. Tapi… kalau cara minta bantuannya dengan hoax (misalnya: rakyat Ghouta dibombardir oleh pemerintahnya sendiri/rezim Syiah membantai warga Sunni di Ghouta), jelas salah. Dan orang yang membawa narasi seperti ini bisa dipastikan, berasal dari kubu “pro-mujahidin”.
Hal ini juga disampaikan oleh Syekh Dr. Al Sawwaf, Rektor Univ Ahmad Kuftaro, Suriah/Dirjen Kemenag Suriah dalam wawancaranya dengan Kompas TV (video bisa lihat di sini). Minimalnya, ada 3 poin penting yang beliau katakan:
1. Dalam krisis Suriah ini memang banyak korban berjatuhan. Apa sebabnya? Karena, para teroris menggunakan warga sipil sebagai TAMENG HIDUP.
“Saya tinggal di Damaskus, dan kaum pemberontak itu melancarkan aksinya di kawasan Ghouta yang dekat dengan Damaskus. Tiap hari, kaum pemberontak melontarkan roket dan mortal ke arah Damaskus. Akibatnya, banyak warga sipil, termasuk anak-anak, pelajar, dan kaum perempuan yang gugur syahid. Di dekat rumah saya sendiri berkali-kali terjadi ledakan, yang berakibat tewasnya sejumah anak-anak dan perempuan.
Saat ini, militer Suriah tengah melancarkan operasi pembebasan sejumlah kawasan, termasuk Ghouta. Militer Suriah meminta kaum pemberontak agar mengizinkan warga sipil dievakuasi dari Ghouta, supaya pertempuran hanya terjadi antara militer dan pemberontak. Sayangnya, mereka malah menyandera warga sipil dan melarang evakuasi. Akibatnya, jatuhlah korban dari warga sipil dalam jumlah besar.”
2. Bantuan untuk korban perang Suriah HARUS MELALUI KEMENLU SURIAH DAN KEDUTAAN INDONESIA.
Sebabnya… kata Syekh Al Sawwaf, “…ada saja pihak yang menyalahgunakan bantuan, hingga bantuan itu ada yang sampainya ke tangan PEMBERONTAK.”
Tambahan dari saya: ingat kan, tahun 2016 kardus kiriman dari Indonesia malah ditemukan di gudang milik “jihadis” Jaish Al Islam di Aleppo? Rakyat di sana berebutan mengambil barang-barang itu dan mengaku selama ini kelaparan karena para teroris menyimpan bahan makanan untuk mereka sendiri. Lihat videonya di sini [detik ke 00:51 terlihat kardus bertulisan ‘Indonesia’]
3. Pemerintah Indonesia selama ini teguh menjalankan Kebijakan Luar Negeri yang bebas-aktif. Meskipun pihak Indonesia mendapat ancaman dari pemberontak agar menutup kedutaan, serta menerima tekanan dari sejumlah negara agar memutuskan hubungan diplomatik dengan Suriah, Kedubes RI tak pernah ditutup walau sehari pun. Syekh Sawwaf pun menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah Indonesia.
Bagaimana dengan kita, orang Indonesia? Ya sepatutnya bangga. Sebagaimana kita juga teguh membela Palestina, setia membantu Afghanistan yang diobrak-abrik Taliban dan Al Qaida, kita pun tetap berdiri di samping sahabat yang sedang diperangi secara sangat brutal oleh negara-negara adidaya + negara-negara Arab/Teluk yang kaya raya + Turki, yang memanfaatkan proksi (yaitu para “mujahidin”).
Sekali lagi, FAKTA-nya: yang angkat senjata di Suriah adalah Jaish Jaish al Islam, Faylaq ar Rahman, Hayβat Tahrir Al Sham, Harakat Nour al-Din al-Zenki, dan Harakat Ahrar al-Sham al-Islamiyya, ISIS, dll. Mereka ini bersenjata tempur lengkap, gak kalah dari senjata yang dimiliki negara.
Kita juga ingat bahwa orang-orang dengan ideologi yang sama telah melakukan berbagai pengeboman, mulai Bom Bali hingga Bom Kampung Melayu. Mereka berasal dari organisasi-organisasi transnasional yang punya cabang di Indonesia. Di titik ini, konflik Suriah sangat erat kaitannya dengan Indonesia.
Jadi…, kalau ada orang yang mengaku pro-pemerintah/NKRI, tapi malah menghalang-halangi pengungkapan hoax soal Suriah (dengan berbagai alasan yang mengada-ada), artinya, orang itu perlu dipertanyakan, darimana dia sebenarnya.
Salam cerdas dan kritis π
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.