
Karena ada yang membantah pendapat saya dengan menyebut-nyebut Amnesty Internasional, saya merasa perlu kasih penjelasan. Belajar kritis lagi yuk. Berikut ini saya kutip dari buku “Salju di Aleppo”.
Amnesty Internasional (AI) adalah salah satu lembaga yang sangat berpengaruh dalam menggiring opini publik ketika menilai mana yang benar dan mana yang salah dalam Perang Suriah. Sejak awal konflik, yaitu sejak awal munculnya demo-demo massa di Daraa, AI dengan cepat merilis laporan berjudul “Deadly detention: Deaths in custody amid popular protest in Syria”. [1]
Laporan itu dirilis Agustus 2011, padahal demo pertama di Daraa terjadi Maret 2011. Artinya dalam waktu 5 bulan, AI sudah membuat laporan dengan kesimpulan: pemerintah Suriah melakukan kejahatan kemanusiaan (crimes against humanity) dan menyerukan dunia internasional mengambil tindakan menghukum pemerintah Suriah.
Status “crimes against humanity” adalah tuduhan serius, yang bermakna: pemerintah suatu negara melakukan serangan sewenang-wenang kepada masyarakat sipil secara luas dan sistematis; dan serangan itu merupakan bagian dari ‘kebijakan resmi’ pemerintah. Bila ada pemerintah yang melakukan hal ini, masyarakat internasional (dalam hal ini PBB) dianggap ‘berhak’ untuk melakukan Humanitarian Intervention (menggulingkan pemerintahan tersebut).
Namun pertanyaannya, bagaimana mungkin hanya dalam lima bulan, AI bisa membuat laporan itu? Bila pemerintah Suriah dituduh melakukan ‘serangan secara luas dan sistematis’, artinya, kawasan yang harus diteliti juga sangat luas dan menggunakan metode penelitian yang benar, antara lain melewati prosedur desain penelitian, persiapan, pelaksanaan penelitian, pengolahan data, interpretasi data, penulisan, dan pengecekan keakuratan penulisan.
Sekjen AI, Salil Shetty, dalam wawancara tahun 2014 mengklaim pihaknya memiliki standar pelaporan yang benar, yaitu pengumpulan bukti-bukti dilakukan langsung oleh staf AI di lapangan, dan setiap penemuan, pernyataan, atau teori harus disertai dengan bukti (corroboration) dan melakukan cross-checking (pembuktian silang dari semua pihak yang terlibat dalam konflik). Bahkan Shetty mengatakan, “Adalah sangat penting untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda-beda dan secara terus-menerus melakukan pembuktian silang dan verifikasi fakta.”[2]
Kenyataannya, sebagaimana dicantumkan dalam ‘laporan kilat’ itu, peneliti AI melakukan wawancara kepada orang-orang Suriah yang sudah mengungsi ke Lebanon dan Turki, dan berkomunikasi dengan email dan telepon dengan warga di Suriah, yaitu keluarga korban, aktivis HAM, dokter, dan tahanan yang baru dibebaskan. Narasumber lainnya adalah aktivis HAM yang tinggal di luar Suriah. Dari semua narasumber yang disebutkan, satu-satunya yang bisa disebut sumber primer adalah ‘tahanan yang baru dibebaskan’.
Tapi, apakah informasi dari mereka mengenai kondisi di penjara bisa mendukung tuduhan ‘kejahatan kemanusiaan’? AI tidak menuliskan penjelasan apapun untuk menjawab pertanyaan ini. Yang lebih parah lagi, di halaman 5, AI mengaku sendiri kok, “Amnesty International has not been able to conduct first-hand research on the ground in Syria during 2011” [AI tidak bisa melakukan penelitian langsung lapangan di Suriah selama 2011]. Artinya: TIDAK ADA SUMBER PRIMER. Dan tentu saja, standar lainnya juga tidak dipenuhi oleh laporan itu (corroboration dan cross-checking).
Jadi, bagaimana sikap kita pada AI? Ya tetap kritis lah. Jangan “mentang-mentang AI” langsung telan bulat-bulat. Kalau memang isi laporannya sesuai standar ilmiah, barulah diterima.
Eh, ada yang nyolot juga tuh: BUKANKAH PBB JUGA MENGECAM ASSAD?? MASA PBB BISA SALAH??
Sekali lagi, manusia kritis akan mengkritisi kasus per kasus, tidak gebyah uyah. Di bawah PBB itu ada banyak organisasi, jadi PBB yang mana? Laporannya mana, download, pelajari [saya sudah menganalisisnya di buku Prahara Suriah].
Untuk kasus Suriah, saya saya cerita sedikit saja: video yang ditayangkan dalam sidang DK PBB (tentang anak2 yg diklaim korban senjata kimia Assad) ternyata adalah video buatan White Helmet. Video itu kemudian diteliti oleh asosiasi dokter Swedia (SWEDHR) dan banyak sekali kejanggalan di dalamnya.[3]
Demikian. Untuk bisa paham asas penelitian ilmiah kayak gini, sebenarnya tidak perlu jauh-jauh kuliah ke Inggris. #eh [4]
Teman-teman silahkan scroll lagi tulisan-tulisan lama di fanpage ini. Saya selama ini sudah berkali-kali menulis tentang bagaimana mengkritisi sebuah info, pelajaran logika, dll, dengan penjelasan ringkas dan sederhana.
Salam cerdas dan kritis.
🙂
—-
[1] https:// http://www.amnesty.org/en/documents/MDE24/035/2011/en/
[2] https://www.youtube.com/watch?v=Unl-csIUmp8
[3] lebih lanjut soal analisis SWEDHR: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/posts/409471109479150
Direktur SWEDHR, Professor Marcello Ferrada de Noli, juga pernah menulis analisis kritis soal laporan AI: http://theindicter.com/new-amnesty-internationals-fabrications-aim-to-interfere-president-trumps-upcoming-decision-on-us-participating-in-the-anti-terror-war-in-syria/
[4] tidak bermaksud menghina seluruh alumni Inggris lho ya, ini saya lagi nyindir oknum. Dr. Marcus yang kemarin videonya saya share dan pendapatnya persis pendapat saya; itu kan dari Inggris 🙂
Untuk menggali lebih lanjut, ada apa di balik AI dan LSM-LSM sejenis, simak: http://ic-mes.org/politics/peran-lsm-ham-dalam-eskalasi-perang-nato-1/
Paper Dr. Tim Anderson ttg AI: PDF
AI, HRW, dan organisasi2 kemanusiaan lainnya, ternyata anggota Council of Foreign Relations

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.