Mendung di Bandung sore itu terasa romantis. Saya duduk diam-diam di selasar Museum Konperensi Asia Afrika, menatap puluhan anak muda yang juga hadir. Terkenang pada diri ini, saat seusia mereka belasan tahun yang lalu. Saat itu, tak terbersit sedikit pun untuk menoleh pada museum, apalagi duduk berjam-jam membaca buku-buku sejarah. Waktu itu, sejarah seperti masa lalu yang tak ada gunanya dibaca kembali. Belasan tahun kemudian, saya mendengar kata-kata Milan Kundera, “Perjuangan melawan kekuasaan [yang zalim] adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” Saya pun tersadar. Rupanya, inilah fungsi penting sejarah, sebagai media untuk melawan lupa. Bangsa yang tidak mempelajari sejarah, akan mengalami amnesia, dan lagi-lagi terjebak dalam lubang kesalahan yang sama, hanya berbeda model.
Inilah kita, bangsa yang sepertinya sedang menderita lupa. Pemimpin silih berganti, namun nasib tak jua beranjak. Semakin lama negeri ini justru semakin terjerat imperialisme berkedok investasi asing, liberalisme pasar, soft loan, atau structural adjustment programme. Pemilu datang dan pergi, tak jua kita mampu mengangkat seorang pejuang sebagai pemimpin. Ayat-ayat dan nilai-nilai moral dijejalkan ke otak kita sejak kecil, namun selalu saja ada orang-orang yang mau saja diperalat untuk memberangus dan menindas saudara sebangsanya atas nama Tuhan. Saat membaca koran atau menonton televisi, sungguh terasa negeri ini kian oleng, kian carut-marut.
Tapi di sini, di selasar MKAA, ada harapan yang terlihat. Ada anak-anak muda yang menolak lupa. Tergabung dalam Asia Africa Reading Club, setiap pekan mereka membaca bersama buku-buku sejarah, lembar demi lembar, lalu mendiskusikannya dari berbagai sisi, ditemani narasumber-narasumber dari berbagai latar belakang. Mereka dengan penuh semangat membaca Bandung Connection (Ruslan Abdul Gani, mantan Sekjen Deplu) atau Tonggak-Tonggak di Perjalananku (Ali Sastroamidjojo, mantan PM Indonesia). Mereka membaca kembali pidato heroik Bung Karno yang ternyata masih sangat relevan dengan kondisi bangsa ini, hari ini. “Kolonialisme juga memiliki penampilan yang modern, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual, dan juga kontrol fisik yang dilakukan sekelompok kecil orang asing dalam sebuah bangsa,” seru bung Karno waktu itu.
“Tugas kita pertama-tama adalah mencari saling mengerti di antara kita, dan dari pengertian itu akan timbul saling menghargai, dan dari pernghargaan itu akan terselenggara aksi bersama,” pesan Bung Karno.
Banyak dari kita yang lupa. Kita biarkan negeri ini dijual habis-habisan, demi komisi yang tak seberapa. Kita pelihara dendam kesumat untuk membantai sesama. Tapi anak-anak muda di selasar MKAA itu menolak lupa.
Bersahabatlah
dengan darah
dengan tanah
dengan warna kulit resah mendesah
tersimpan tanya menduga-duga
mereka telah lama didera siksa
Tuan puan bersatulah
Mengapa harus saling menganiaya
Sematkan damai buang jauh lunglai
(lirik lagu Damai by Adew Habtsa)
Demikian teriak mereka, diiringi nada musik yang menghentak-hentak.
“Hidup dan membiarkan hidup,” demikian judul album lagu Adew Habtsa dkk, yang hampir semua liriknya diilhami dari penggalian sejarah konferensi Asia Afrika. “Kita harus hidup dan juga membiarkan orang lain hidup,” kata Adew, salah satu di antara anak muda yang memilih duduk membaca buku sejarah setiap pekan di MKAA.
Anak-anak muda itu menolak lupa. Mereka pun menulis ulang refleksi mereka atas sejarah dan menggalang tulisan dari orang-orang yang juga menolak lupa. Lalu, lahirlah buku ini: Bandung, Ibu Kota Asia Afrika. Isinya adalah esei, cerpen, puisi, ilustari dari 21 orang, sebagian besarnya ada anak muda; meski ibu-ibu seperti saya pun diberi kehormatan untuk menyumbang tulisan.
Inilah buku yang lahir dari kepekaan, lahir dari perlawanan terhadap lupa, dan lahir dari cita-cita untuk tetap merdeka.
Selamat buat Asia-Africa Reading Club, tetaplah bergerak!
Lawan dengan deru
Lawan meski kelu
Lawan tanpa malu
Lawan terus lawan
Yang menindih otak kita
Yang menyiksa jiwa raga
Terlalu besar lidah kebohongan
Tujuan kalian menyakitkan
(lirik lagu Bandung, by Adew Habtsa)
klik foto untuk memperbesar

4 tanggapan untuk “Launching Buku “Bandung Ibu Kota Asia Afrika””
buku ini bisa didapat dimana, mba?
bisa dibeli langsung di Museum KAA (blm masuk toko buku)
kok saya ndak melihat mba Dina, yah?
saya duduk diam-diam kan..? hehe.. saya sempet maju lho, menerima buku Bandung Ibukota AA dari kang Adew.. tapi jam 17.30 saya pulang, ngejar kereta jam 6. Kang Yudha datang jam brp?