Numpang iklan yak..:)
Ini karya terbaru suami saya:
Testimoni:
Novel ini tidak sekedar menyajikan eksplorasi latar Timur Tengan (Iran) sebagai syarat keglobalan tematiknya, tetapi juga sebagai upaya berbicara tentang pergulatan identitas dan teologi. Sangat menarik!
Irfan Hidayatullah, dosen Sastra Indonesia Unpad, penulis, dan aktivis Forum Lingkar Pena
Novel “Dari Jendela Hauzah” mengukuhkan bahwa karya fiksi bukan semata
permainan imajinasi dan mengajak pembaca berkhayal ‘kosong’. Potret
Iran yang menjelma utuh berlandaskan memori dan aspek empiris
penulisnya merupakan nilai istimewa yang menggiring saya mereguk
cerita lebih jauh, tidak sekadar mencicipi.
Rini Nurul Badariah, penerjemah dan penyunting lepas.

8 tanggapan untuk “Coming Soon: Dari Jendela Hauzah (Sebuah Novel)”
Alhmadulillah…
akhirnya terbit juga, buku yang bercerita tentang hauzah…
Sebagai suatu negara yg paling berani menentang AS dan sekutunya, ceritera tentang hal-hal yg berhubungan Iran sangat menarik untuk diketahui, terutama yg berkaitan dg Iran sbg negara yg menegakkan ajaran Islam Syi’ah dan bagaimana hubungan antara kaum Sunni dan Syi’ah di negara itu.
akhirnya buku dari jendela hauzah masuk di kotaku
saya lagi santap nih…..
terimakasih..:)
Ibu Dina,
salam takzim dari saya.
Sudah 2 kali saya ke Iran, dan kali kedua adalah sebulan yang lalu, lumayan cukup meng eksplorasi Iran. Saya naik metro, kereta api (Ghazal dan Delijan), bus kota, savaris, taxi, bus way, pesawat dlsb.
Singkatnya, saya berziarah dengan backpacking dari Mashhad hingga Shiraz. Sama dengan kesan ibu, saya melihat informasi yang tidak berimbang.
Setahu saya, Nabi pernah dawuh: Seandainya ilmu itu ada di bintang suraya, maka pastilah putra putra Parsi yang akan meraihnya.
Benar kata ibu dalam buku Pelangi, saya berziarah ke mana saja yang ada, dan ada pembedaan antara yang sunni dan syiah. Tetapi, tetap saja makam nya terawat. Saya ke Bustam, ke makam Yazid al Bustomi, Sultan para Mistikus, namun maqam nya di luar, beda dengan Imamzada Ibrahim yang diletakkan didalam masjid. Demikian juga dengan Attar, Abulhassan Kharqani.
Buat saya, pembedaan itu bukan masalah. Masih mending. Bagaimana dengan makam Baqi tempat para sahabat yang tidak dipelihara ?. Yang penting, bagi orang Iran, selalu ada rujukan berdasar pada dawuh mulia para aulia.
Di Shahruz, saya melihat visi dan misi departemen turisme yang diambil dari dawuh Sayyidina Ali. Saya rasa, Iran berusaha membumikan Islam.
Su’udzon saya: kenapa harus Iran yang maju ?. Sudah Syiah, bukan Arab pula 🙂
hehehe….
@Gunther: wow.. backpacking di Iran..? salut deh.. tak berniat menuliskan pengalaman (minimalnya di blog)? makasih udah berbagi pengalaman di sini:)
Saya akan coba menuliskan ya bu, sebisa saya. Sebenarnya dari Iran, saya melanjutkan ke Jordan dan Syria.
aku harap hal hal penting(ilmu dan para tokoh2nya)lebih di bicarakan dan lebih terbuka hingga kta bisa belajar dari mereka..